ABSTRAK
PGRI berdiri setelah
kemerdekaan Indonesia dimana semangat kemerdekaan senantiasa mewarnai
perjuangan PGRI. Organisasi PGRI ini sangat berperan besar dalam meneruskan
perjuangan rakyat Indonesia dalam membangun Negara Indonesia dengan cara
mencerdaskan rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan sehingga dapat lebih
mempertahankan dan menyempurnakan republik Indonesia. Dan organisasi PGRI
selalu mensarkan diri pada aspirasi rakyatindonesia serta ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Kata kunci
: PGRI, Kemerdekaan, Rakyat Indonesia.
I.
PENDAHULUAN
PGRI lahir tanggal 25 November 1945, hanya berselelang tiga
bulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.Semangat dan suasana batin
perjuangan kemerdekaan Indonesia turut membidani lahirnya PGRI.Pada perkembangan
selanjutnya semangat kemerdekaan itu senantiasa mewarnai perjuangan
PGRI.bertempat disekolah Guru Putri (SGP) Surakarta diselenggrakan Kongres I
PGRI dari tanggal 24-25 November 1945. Pada konngres itu disepakati berdirinya
PGRI sebagai wahana persatuan dan kesatuan segenap guru di seluruh Indonesia.
Pendirinya antara lain : Rh. Koesnan, Amin Singgih, Ali marsaban, Djajeng
Soegianto, Soemidi Adisasmito, Abdullah Noerbambang, dan Soetono. Pada
kongres itu dirumuskan tujuan PGRI, yaitu :
a. mempertahankan
dan menyempurnakan Republik Indonesia.
b. mempertinggi
tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
c. membela
hak dan nasib buruh pada umumnya, guru pada khusus (Suara Guru, November
1955; 17).
Kelahiran PGRI merupakan bagian integral perjuangan rakyat
Indonesia dalam merebut, menegakkan, menyelamatkan dan mempertahankan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
Wujud jati diri PGRI merupakan panggilan sejarah yang tumbuh
sejak Kebangkiatan Nasional, dalam membentuk penanaman kesadaran kebangsaan dan
nasionalisme lewat pengajaran. Dengan demikian, tujuan PGRI menunggal dengan
cita-cita bangsa dalam mewujudkan tujuan nasional, sebagaimana tertuang
dalam Pembukaan UUD 1945.
Lembaga pendidikan PGRI
merupakan organisasi profesi terkait dengan fungsi keguruan yang berperan
sebagai pendidik bangsa lewat pengajaran. PGRI juga dalam hal mengabdi kepada
masyarkat dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, selalu mendasarkan diri
pada aspirasi masyarakat serta tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
A. PEMBAHASAN
Kongres I PGRI di laksanakan di Surakarta (Solo), Jawa
Tengah pada tanggal 23-25 November 1945, dengan susunan PB sebagai
berikut:
a. Ketua
I
: Amin Singgih
b. Ketua
II
: Rh.Koesnan
c. Ketua
III
: Soekitro
d.
Penulis :
Djajeng Soegianto
e. Bendahara
: Siswowidjojo
Beberapa bulan kemudian Ketua I Amin Singgih di angkat sebagai
Bupati Mangkunegaran, sehingga terpaksa di adakan perombakan susunan pengurus
besar dengan formasi berikut:
a. Ketua
I
: Rh. Koesman
b. Penulis
I
: Sastrosoemarto
c. Penulis
II
: Kadjat Matosoebroto
d. Bendahara
: Soemidi Adisasmito
2.
KONGRES II PGRI
Kongres ke II PGRI di adakan di Surakarta (Solo) Jawa
Tengah pada Tanggal 21-23 Desember 1946.
Melalui
kongres ini PGRI mengajukan tuntutan kepada pemerintah yaitu:
a.
Sistim pendidikan selekasnya didasarkan pada kepentingan
nasional.
b.
Gaji guru supaya tidak di hentikan.
c.
Di adakan Undang-Undang Pokok Perburuhan.
Tuntutan tersebut mendapat perhatian pemertintah, terbukti
dengan di tunjuknya Rh. Koesnan menjadi anggota Panatia Gaji Penerintah yang di
bentuk oleh Departemen Kuangan RI.
Dari
kongres tersebut komposisi PB sebagai berikut:
1) Ketua
I
: Rh.
Koesnan
2) Ketua
II
: Soejono Kromodomejo
3) Ketua
III
: Soedjono
Karena Ketua I Rh. Koesman di tunjuk
sebagai Mentri Social dan Perburuhan dalam Kabinet Hatta, maka KB di ubah
menjadi; Ketua II Sowjono Kromodimuldjo menjadi Ketua I dan Ketua III
Soedjono menjadi Ketua II, sedangkan Jabatan Ketua III di hapus.
3.
KONGRES KE III PGRI
Kongres ke III PGRI di adakan di Madiun Jawa Timur pada
Tanggal 27-29 Februari 1948, kongres yang di adakan dalam keadaan darurat
ini antara lain memutuskan bahawa untuk meningkatkan efektivitas organisasi di
tenpuh dengan jalan memekarkan cabang-cabang yang tadinya keresidanan mamiliki
satu cabang menjadi cabang-cabang yang lebih kecil, tetapi dengan jumlah
anggotanya 100 orang.
Susunan
Kongres ke-III PGRI adalah sebagai berikut:
a. Ketua
I :
Soedjono kromodimoeldjo
b. Ketua
II
: Soedjono
c. Ketua
III
: Soedarsono
Pada akhir tahun 1948 s.d awal tahun 1949 dengan kembalinya
kekuasaan pemerintah RI ke Yogyakarta, maka kembali pula PGRI menggerakkan
organisasinya dan memindahkan kedudukan PB dari Solo ke Yogyakarta, dengan
susunan pengurus sebagai berukut:
a.
Ketua Umum
I
: Soejono Kromodimejo
b.
Ketua Umum
II
:Soedjono (Wk. PB di Jakarta)
c.
Ketua Umum
III
: Soedarsono
d.
Sekretaris
Umum :
Soekirno, Soebakti
e. Bendahara
: Soewandi
4.
KONGRES KE IV PGRI
Kongres ke IV yang berlangsung di Yogyakarta 26-28
februari 1950 ini, memutuskan untuk mengeluarkan “Maklumat
Persatuan” yang berisikan seruan kepada masyarakat, khususnya kepada guru-guru,
untuk membantu menghilangkan suasana yang membahayakan dalam hubungan antara
golongan” Non-“dan “Ko” ,dan menggalang persatuan demi perjuangan untuk mengisi
kemerdakaan. Ternyata “Maklumat Persatuan” ini mendapat perhatian dan
penghargaan dari kalangan luas termasuk Pemarintah.Adapun susunan PB dalam
Kongres Ke IV adalah :
a. Ketua
I
: Rh. Koesman
b. Ketua
II
: Soedjono
c. Ketua
III
: Soejono
Kromodimoeljo
Rh. Koesnan dan Pengurus-Pengurus Besar lain berkedudukan di
Yogyakarta, Mereka secara bersama memelihara hubungan Jwa tengah. Jawa Timur
dan DIY. Mereka juga bertugas memelihara hubungan Jawa Barat, Sumatra,
Kalimantan Indonesi Timur, dan Sunda Kecil.
5. KONGRES KE V PGRI
Diadakan di Bandung pada tanggal 19-24
Desember 1950 tepatnya di Hotel Savoy Homann, dan di buka oleh ketua
PB PGRI Rh.KoesmanDalam Kongres ini di bicarakan suatu masalah yang prinsipil
dan fundamental bagi kehidupan perkembangan PGRI selanjutnya yaitu asas
organisasi ini.dan Pancasila di terima sebagai asas organisasi. Selain itu di
diskusikan pula bentuk Pendidikan Guru KPKPKB (Kursus Pengantar Kepada
Persiapan Kewjiban Belajar), yang menurut peserta kongres tidak sesuai dengan
upaya peningkatan mutu Pendidikan Bangsa.Kongres juga menegaskan PB-PGRI dalam
waktu singkat melakukan usaha untuk menghilangkan perbedaan gaji antara
golongan “Non” dan “Ko”yang telah di tetapkan oleh pemerintah.Adapon susunan PB
nya ialah;
a. Ketua
I
: Soedjono
b. Ketua
II
: M.E.Subiadinata
Tugas PB yang di bebankan oleh Kongres seharusnya dapat di
laksanakan oleh PB yang lengkap,karena sampai 3 bulan susdah Kongres baru 9
orang yang dapat berdomisilidi Jakarta.Komisariat-komisariat Daerah di bentuk
pada tahap pertama adalah untuk Daerah-daerah:
a. Sumatra
Utara
: T.Z.Answar
b. Sumatra
Tengah
: A.Manan
c. Sumatra
Selatan
: Noezoear
d. Jawa
Barat
: Jaman Soedjono Prawiro
e. Jawa
Tengah
: Soenarto
f. Yogyakarta
: Moh.Djoemali
g. Jawa
Timur
: Soebandri
h. Sulawesi
Selatan
: A.N. Hardjarati
i. Jakarta
Raya
: Soemadi (Koordinaror)
Pada tahun 1952 terbentuk Komisariat Daerah yang baru yaitu:
a. Kalimantan
: E.Simorangkir (digantikan Sjahran)
b. Sulawesi
Utara
: E.A.Parengkuan
c. Maluku
: O.Nanulaita
d. Bali
: Made Mendra
Kongres PGRI Ke VI berlangsung di Malang Jawa Timur 24-30
November 1952, dalam Kongres ini menyapakati beberapa keputusan penting:
a. Dalam Bidang
Organisasi,
Kongres menetapkan bahawa asas PGRI ialah keadilan sosial dan dasarnya adalah
“Demokrasi”, dan PGRI tetap berada di bawah GBSBI (Gabungan Serikat Buruh
Indonesia). Dalam bidang perburuhan diputuskan untuk memperjuangkan kendaraan
bermotor bagi penilik sekoleh, instruktur Pendidikan Jasmani dan Pendidikan
Masyarakat.
b. Dalam Bidang
Pendidikan,di setujui agar (a) sisitim pengajaran di selaraskan dengan
kebutuhan Negara pada masa pembangunan,(b) KPKB(Kursuss Persamaan Kewajiban
Belajar) di ubah menjadi SR 6 tahun (c) KPKPKB di hapus pada ahir tahun
1952/1953 (d) Kursus B-I/B-II untuk pengadaan guru SLTP dan SLTA di atur
sebaik-baiknya dan (e) di adakan Hari Pendidikan Nasional.
c. Dalam Bidang
Uumum, di sepakati supaya anggaran belanja Kementrian PP & K di
tingkatkan menjadi 25% dari seluruh anggaran belanja Negara dan agar
Jawatan PP & K di pusatkan sampai tingkat propinsi saja.Dalam Kongres ini
di syahkan pula “Mars PGRI” ciptaan Basoeki Endropranoto.
Pada Kongres ke VI untuk pertama kalinya PV PGRI berusaha
mengajukan konsep tentang isi dan pengertian “Pendidikan Nasional”.Adapun
susunan pengurusnya adalah:
1) Ketua
I
: Soedjono
2) Ketua II
: M.E.Subiadinata
3) Panitera
Umum
: Moehammad Hidajat
4) Tata
Usaha
: Soebandri
5) Panitera
Pendidikan
: Ktut
Nara
6) Redaksi Majalah
Suara Guru :Soeprdo, Soedjono Soebandri
Dalam Kongres ke VI ini NV harapan Mersra
PGRI, mulai memberikan pertanggungjawabanya dan karena itu menjadi acara
pembahasan pula.
7.
KONGRES KE VII PGRI
Kongres ini di laksanakan di Semarang tepatnya di SMA-B Candi
Semarang pada tanggal 24 November s,d 1 Desembar 1954 dan di hadiri
639 0rang utusan dari 351 cabang yang menbawakan 1,414 suara dari 1.581 seluruh
suara dalam organisasi (89%). Untuk pertama kalinya Kongres ini di hadiri oleh
tamu-tamu dari luar nagri yaitu Maria Marchant, wakil FISE yang berkedudukan di
Paris , Marcelini Bausta dari PPTA Filipina mewakili WCTOP, Fan Ming, Chang
Chao dan Shen Pei Yung dari Serikat Buruh Pendidikan RRC. Hasil Kongres ini
antara lain;
a. Bidang Umum, Pernyataan mengenei
Irian Barat, Pernyataan mengenei korupsi, resolusi mengenei desentralisasi
sekolah, mengenei pemakaian keuangan oleh kementrian PP & K, dan mengenei
penyempurnaan cara kerja Kementrian PP & K ,
b.
Bidang Pendidikan, resolusi mengenei anggaran belanja PP & K
yang harus mencapai 25% dari seluruh anggaran belanja Negara, mengenei UU
Sekolah Rakyat, dan UU Kewajiban Belajar,mengenei Film, iektur, gambar, serta
radio dan pembentukan Dewan Bahasa Nasional.
Empat orang formatur terdiri atas Soedjono (944 suara),
M.E.Subiadinata (784 suara), Hermanoe Adi (264 suara), dan Moehammad Hidajat
(258 suara) di pilih oleh Kongres untuk mekengkapi susunan PB berikut:
1) Ketua
I
: Soedjono
2) Ketua
II
: M.E.Subiadinata
3) Ketua
III
: Hermanoe Adi
Terjadi pergantian Komisaris Daerah dan penambahan Komisaris
Daerah sebagai berikut:
1) Sumatra
Utara
: Idris M, Hutapea
2) Sumatra
Tengah
: Achmad Chatib
3) Sumatra
Selatan
: Madian
4) Jakarta
Raya
: Baheransjah Sutan Indera
5) Jawa
Barat
: M. Hosein
6) Jawa
Tengah
: Soenarto
7) Yogyakarta
: Muh,Djumali
8) Jawa
Timur
: Hermanoe Adi
9) Kalimantan
Barat
: R.Sujo
10) Kalimantan
Selatan
: Sjahran
11) Sulawesi
Utara
: E,A Parengkuan
12) Sulawesi
Selatan
: J.E.Tatengken
13) Bali :
Madae Mendra
14) Maluku
: M.Ruhupatty
8.
KONGRES KE VIII PGRI
Dilaksanakan di Bandung pada Oktober 1956, hampir di
hadiri seluruh cabang PGRI.Tetapi pemilihan ketua umum PB PGRI keadaan
menjadi tegang , karena pihak Soebandri dkk menambah kartu pemilihan (kartu
palsu),sehingga pemilihan tersebut harus di ulangi. Otak pemalsuan ini
Hermanoe Adi, tokoh PKI Jawa Timur yang saat itu menjabat Ketua II PB PGRI.
Ahirnya yang terpilih menjadi Ketua Umum PB PGRI ialah M.E.Subiadinata,
menggantikan Sudjono. Hermanoe Adi tidak legi di pilih menjadi ketua PB PGRI
jabatanya di gantikan oleh M. Husen yang sebelumnya menjabat Ketua PGRI
Komisariat Daerah Jawa Barat.Susunan PB-PGRI hasil Kongres ini sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: M.E.Subiadinata
2) Ketua
I
: Soedjono
3) Ketua
II
: M.Hosein
9. KONGRES KE IX PGRI
Berlangsung di Surabaya, pada Tanggal
31 Oktober-4 November 1959. Susunan PB PGRI sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: M.E Subiadinata
2) Ketua
I
: M. Hoesein
3) Ketua
II
: Soebandri
10.
KONGRES KE X PGRI
Bertempat di Gelora Bung Karno Jakarta, Oktober 1962,
periode tahun 1962-1965. PGRI mengalami masa sulit karena terjadinya perpecahan
di dalam tubuh PGRI.Susunan PB PGRI masa perserikatan ke X Sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: M.E.Subiadinata
2) Ketua
I
: M.Hosein
3) Ketua
II
: Soebandri *)
Pada bulan Juni1964 Soebandri di pecat kerana
terlibat dalam penghianatan /sparatis dengan mendirikan PGRI Non Vak sentral/PKI.pada
bulan-bulan pertama kongres X mengalami kesulitan-kasulitan terutama keuangan,
Setelah mengalami beberapa reshuffle, maka susunan PB PGRI berubah
sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: M.E, Subiadinata
2) Ketua
I
: M.Hosein
3) Ketua
II
: -
Untuk menyelamatkan pendidikan dari
ancaman dan perpecahan di kalangan guru Presidan Soekarno membentuk Majelis
Pendidikan Nasional yang menerbitkan PenPres No.19 tahun 1965 tentang
Pokok - pokok Sistim Pendidikan Nasional Pancasila sebagai hasil kerja dari
Panetia Negara untuk penyempurnaan Sestem Pendidikan Pancawardhana.
11.
KONGRES KE XI PGRI
Dilaksanakan di Bandung 15-20 Mart 1967, dengan susunan PB
PGRI(1967-1970) sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: M.E,Subiadinata
2) Ketua
I
: Dra.Mien S. Warnaen
3) Ketua II
: Maderman B.A.
Adapun hasil Kongres Ke XI antara lain:
Di bidang umum dan politik diantaranya sebagai berikut ;
a) Memenangkan perjuangan
untuk menagakkan dan mengembangkan orde baru demi suksesnya Dwi Dharma dan
Catur Karya Kabinet Ampera.
b) Mendukung sepenuhnya
keputusan dan ketetapan Sidang Umum Istimewa MPR.
c) Pancasila sebagai
dasar dan falsafah Negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 45.
d) Menjujung tinggi hak
asasi manusia.
e) Mengikis habis
sisa-sisa Gestapu/PKI.
f) PGRI Non Vaksentral,
SSP, PGTI di nyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan ormas anthek
PKI.
g) Diaktifkanya kembali
27 pejabat kementrian P & K yang di pecat oleh, Prof. Prijono.
h) Di setujuinya PGRI
untuk bergabung dalam Sekber Golkar.
i) Di bidang organisasi
antara lain:
j) Konsolidasi
pengembangan organisasi ke dalam dan ke luar untuk menciptakan kekompakan pada
seluruh potensi kependidikan.
k) Perubahab dan
penyampurnaan AD/ART/PGRI yang sesuai dengan perkembangan politik Orde Baru.
l) Perluasan keanggotaan
PGRI dari guru TK sampai dengan dosen PT.
m) Penentuan
criteria/persyaratan pengurus PGRI mulai tingkat PB, PD, PC hingga Ranting.
n) Intensivikasi
penerangan tentang kegiata organisasi melalui pers, radio, TV, dan majalah
Suara Guru.
o) Pendidikan kader
organisasi secara teratur dan berencana.
p) PGRI menjadi anggota
WCOTP (World Confederation of Organisation of Teaching Prifession).
q) Menyatakan PGRI siap
menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Regional Confrence (ARC
WCOTP .
Pada tanggal 19 Desember 1969, ketua Umum PB PGRI
M.E.Subiadinata wafat, di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,dengan
inspektur upacara jendral TNI Abdil Haris nasution,sehingga Ketua Umum di
gantikan oleh ketua I yang baru Slamet (1967-1970).
12.
KONGRES KE XII PGRI
Kongres ke-XII PGRI kebali di gelar di Bandung 29 Juni-4
Juli 1970,dengan susunan PB PGRI (1970-1973) sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: Basyuni Suriamiharja
2) Ketua
I
: Slamet I*
3) Ketua
II
: maderman B.A*
4) Sekretaris
Jendaral
: AMD jusuf
Konpus II Tahun 1972 memutuskan bahwa susunan
PB PGRI harus di sempurnakan di sebabkan oleh:
a) Ketua I Slamet pindah
ke nagri Belanda, di gantikan oleh Ketua II Maderman.
b) Ketua II di isi oleh
Drs.WDF Rindhorindo.
c) SekJen AMD Jusuf wafat
di gantikan oleh M Hatta (sebelumnya menjabat Sekretaris Perburuhan).
Adapun keputusan-keputusan penting dari
Kongres Ke XII PGRI sebagai berikut:
a) Perubahan struktur dan
basis-basis organisasi PGRI, yaitu tngkat Cabang meliputi wilayah
kabupaten/kotamadya, sedangkan wilayah Anak cabang adalah kecamatan.
b) Administrasi
Organisasi di sederhanakan dan di seragankan untuk seluruh wilayah Indonesia.
c) Lambang PGRI dan Mars
PGRI di lampirkan dalam buku AD/ART PGRI.
13.
KONGRES KE XIII PGRI
Diselenggarakan di Jakarta 21-25 novenber 1973,
Dengan susunan PB PGRI sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: Basyuni Suriamiharja
2) Ketua
I
: Prof. Dr.Wnarno Surakmad
3) Ketua
II
: DRS. Madorman.
4) Sekretaris
Jendral
: Drs. WDF Rindorindo
Dalam menjalankan tugasnya PB PGRI untuk
pertama kalinya mendapat bimbingan dari Dewan Pembina Pusat yakni Mentri
Pendidikan Dan kebudayaan, Mentri Dalam Negri, Mentri Agama, Dr.midian Sirait,
Prof. Sadajoen Siswomartojo, Prof. IP simanjuntak, M.A.AE Manihuruk.
Dalam Kongres ini di tetapkan
perubahan-perubahan yang mendasar dalam bidang prganisasi yaitu;berubahnya
sifat PGRI dari organisasi serikat pekerja menjadi organisasi Profesi, di
tetapkanya Kode Etik Guru Indonesia, Perubahan lambing panji Organisasi PGRI
yang sesuai dengan organisasi profesi guru, dan adanya Dewan Pembinaan PGRI.
14.
KONGRES KE XIV PGRI
Diselenggarakan di Jakarta tanggal 26 – 30 Juni 1979,adapun
susunan PB-PGRI (1979-1984) adalah sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: Basyuni Suriamiharja
2) Ketua
: Prof.Dn Amran Halim
3) Wakil
Ketua
: Dra,Ny.M. Wahyudi
4) Wakil
Ketua
: Drs.Sudarmaji
5) Wakil
Ketua
: Drs.Aidil Fitrisyah
6) Sekretaris
Jendral
: Drs. WDF Rindorindo
7) Wakil
SekJen
: Mohammad Hatta
Kongres ini menghasilkan salah satu keputusan
penting yaitu menganei pendirian Wisma Guru yang di rencanakan berdirinya di
Jl.Tanah Abang III No.24 Jakarta Pusat ini sekaligus akan menjadi kantor PB
PGRI. Kongres PGRI ke XIV ini juga memutuskan dan menegaskan bahwa
pembinaan lembaga pendidikan PGRI perlu di lakukan secara konsepsional,
nasional, dan terkendali secara organisator.Untuk melaksanakan keputusan
Kongres, PB PGRI membentuk YPLP – PGRI DENGAN Akta Notaris Moh.Ali No.21
tanggal 31 Mart 1980 yang berlaku surat sejak 1 Januari 1980.Dengan SK PB PGRI
No.951/SK/PB/XIV?1980 tanggal 10 Oktober 1980 diangkat Pengurus Pusat YPLP-PGRI
yang pertama sebagai berikut:
1) Ketua
: Slamet I
2) Wakil
Ketua
: Drs.
Soepojo Padmodipuro
3) Sekretaris
: Surdilani
15.
KONGRES KE XV PGRI
Kongres berlangsung di Jakarta tanggal 16-21 Juli 1984,Kongres
ini menggariskan pokok-pokok PGRI untuk kurun waktu lima tahun mendatang
(1984-1989) yang meliputi: ruang lingkup pembinaan dan pengembangan organisasi
PGRI, tanggunb jawab dan peran PGRI dalam menyukseskan SU MPR 1983, Repelita IV
dan Pancakrida Kabinet Pembangunan V.
Adapun
susunan PB PGRI XV (1984-1989) adalah sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
: Basyuni Suriamiharja
2) Ketua
: Dr.Anwar Jasin, M.Ed
3) Ketua
: Prof.
Dr. Amran Halim
4) Ketua
: Ny. M
Wahyudi
5) Ketua
: Drs. Is Riwidikdo
6) Ketua
: Drs. I Gusti Agung Gde Oka
7) Ketua
: Drs. Adil Fitrisyah
Susunan
Dewan pembinaan pusat PGRI Masa Bhakti XIV (1984-1989) sebagai berikut:
1) Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan,sebagai Ketua
2) Menteri Dalam Negeri ,
menteri Agama,Menteri Penerangan, Menteri Sosial, ketua Umum DPP Golkar,
AE.Mamehuruk, Dr. midian Sirait, dan, Prof. Dr.D.A , sebagai Anggota.
3) Sekreyaris Jendral
PB-PGRI, sebagai Sekretaris.
Salah
satu karya besar PGRI masa bhakti ke- XV adalah pembangunan Gedung Guru
Indonesia (GGI) di Jl.Tanah Abang III No.24 Jakarta, pelaksanaan pembangunan di
mulai 20 Mart 1986 dan di serahkan kepada PGRI pada 21 Mart 1987, kemudian di
resmikan oleh Presiden Soeharto 21 April 1987.
16.
KONGRES KE XVI PGRI.
Kongres PGRI Ke-XVI di adakan di Jakarta tanggal 3-8
Juli 1989, dengan susunan PB PGRI Masa Bhakti (1989-19941) sebagai berikut:
Pengurus
Harian:
1) Ketua
Umum
: Basyuni Suriamiharja
2) Ketua
: Drs. I Gusti Agung Gde Oka
3) Ketua
: Dr. Anwar Jasin, M.Ed
4) Ketu
: Dra. Mien S.Warnaen
5) Ketua
: H.R taman sastrodikromo
6) Ketua
: Taruna S.H.
7) Ketua
: Drs. Sutrisno
17.
KONGRES KE XVII PGRI
Kongres ke XVIII PGRI di selenggarakan di Jakarta
tanggal 3-8 Juli 1994, dengan susunan PB PGRI (1994-1998) adalah sebagai
berikut:
1) Ketua
Umum
: Basyumi Suriamiharja
2) Ketua
: Drs. I Gusti Agung Gde Oka
3) Ketua
: Dr. Anwar Jasin, M.Ed
4) Ketua
: Dra. Mien S. Warnaen
5) Ketua
: H.R. Taman
Sastridokromo
6) Ketua
: Taruna, S.H
7) Ketua
: Prof. dr. Marsetio Danusaputro
Pertama kalinya Kongres PGRI ke XVII
menetapkan dewan Pembina menjadi Dewan Penasehat dan tidak lagi ada Menteri
yang menjadi anggota Dewan Penasehat.
18.
KONGRES KE XVIII PGRI
Di selenggarakan di Lembang, Bandung tanggal 25-28
November 1998, dengan susunan PB PGRI masa bhakti (1998-2003), sebagai
berikut:
1) Ketua
Uumum
: Prof.Dr. H Mohammad Surya
2) Ketua
: Drs. H.Alwi Nurdin, MM
3) Ketua
: Drs. WDF
Rindorindo
4) Ketua
: Drs.
Soekarno
5) Ketua
: Prof.Dr.
Amran Halim
6) Ketua
: Koesrin Wardojo, SIP, SH
7) Ketua
: Dr.M. Ali, SH.Dipl.Ed,M.Sc
19.
KONGRES KE XIX PGRI
Kongres PGRI ke XIX dilaksanakan di Semarang pada tanggal 8-12
Juli 2003 di Hotel Patra Jasa Semarang. Kongres ini diketuai oleh Prof. H.
Muhammad Surya. Hasil kongres PGRI ke XIX sebagai berikut:
1) Penegasan kembali PGRI
sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi
ketenagakerjaan.
2) Diundangkannya UU
Guru dan Dosen.
3) Pengakuan Guru sebagai
profesi oleh presiden pada tanggal 2 Desember 2004.
4) Tuntutan anggaran
pendidikan 20% berhasil dimenangkan dalam pengajuan melalui yudicial
review di Mahkamah Konstitusi.
Hasil kongres XIX memilih 20-an orang untuk duduk dalam PB PGRI
periode 2003-2008 adalah sebagai berikut:
1) Ketua Umum : Prof.Dr.H.Mohmmad
Surya
2) Ketua : 1. W.D.F. Rindo Rindo
2. Rusli Yunus
3. Ana Suhaina
4. Alwi Nurdin
3) Sekretaris Jenderal : Drs H Soemardi
Thaher
4) Sekretaris Jenderal : Kusrin Wardoyo
20.
KONGRES KE XX PGRI
Kongres PGRI ke XX ini diselenggarakan tanggal 30 Juni-4 Juli
2008 di Novotel Hotel Palembang Sumut. Kongres PGRI XX dihadiri
oleh Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta. Kongres PGRI hari ke-4 ini
menghadirkan Sutiyoso atau yang lebih dikenal dengan Bang Yos sebagai pembicara
di sidang paripurna VII. Dalam pembicaraannya, Bang Yos mengatakan bahwa
berdasarkan data dari BPS, di Indonesia ada sekitar 60% jumlah penduduk
merupakan penduduk yang hanya lulus SD. Dengan angka seperti itu Bang Yos
mempertanyakan kesiapan Indonesia menghadapi persaingan
global. Sehingga dengan keterbatasan tersebut banyak orang Indonesia yang
mencari pekerjaan di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga karena
mempertimbangkan gaji yang besar tanpa membutuhkan ijazah pendidikan yang
tinggi. Sehingga dapat dipastikan bangsa asing menilai harkat dan martabat
bangsa Indonesia rendah. Selain itu Bang Yos juga menambahkan bahwa
Indonesia berada di peringkat 133 dari 177 negara dalam Human
Developement Indeks mengenai kualitas dilihat dari aspek
pendidikan, kesehatan dan penghasilan. Beliau juga memaparkan suasana dan
integritas pikiran menjadikan Indonesia yang bermartabat.
Mendiknas memaparkan dengan berbagai dinamika dan problematika
Guru, tentu mendapat sambutan yang amat meriah dan saling berebutan untuk bisa
berbicara menyampaikan masalahnya kepada Menteri.
Adapun susunan PB PGRI
periode 2008-2013 adalah sebagai berikut:
1) Ketua
Umum
:
Dr. Sulistiyo, M.Pd.
2) Ketua
: 1. Prof.Dr.Anah Suhaenah Soeparno
2.Prof.Dr.H.AgustitinSetyobudi,MM
3.Dr.Unifah Rosyidi, M.Pd
4.
Drs. Sugito, M.Sc
5. Hambasi Abdullah
6.
Drs.H.Dahri,MM
3) Sekretaris
Jenderal
:
H. Sahiri Hermawan, SH,MH
4) Wakil
Sekretaris
Jenderal
: 1. Dra. Harfini Suhardi
2. Drs.H.Giat Suwarno
3. Drs.Wahyo Pradono,MM
5) Bendahara
: Drs. H. Sugiharto,MM
6) Wakil
Bendahara
: Drs. H. Muhir Subagia, MM
7) Depr.
Organisasi dan
Kaderisasi
: Drs. M. H. Usman M.Pd
8) Dept.
Keteranaga Kerjaan dan
Kesra
: Drs. H. Didi Suprijadi,MM.
9) Dept.
Informasi &
Komunikasi
: Dr. M. Qudrat Nugraha, M.Si
10) Dept.
Penelitian & Pengembangan
: Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum
11) Dept.
Pendidikan dan
Pelatihan
: Dra. Hj. Rachmawaty AR, MM
12) Dept.
Hubungan Kerjasama Luar
Negeri
: Prof. Dr. H. Djam'an Satori, MA
13) Dept.
Pembinaan Karier &
Profesi
: Dra. Opih Rofiah Zainal
14) Dept.
Kerohanian
: Drs.H.Malik Raden,MM.
15) Dept.
Pemberdayaan
Perempuan
: Dr. Hj. Tjut Afrida, M.Pd
16) Dept.
Pengmb. Kesenian dan Kebudayaan
: Dr. Hj. Euis Karwati, M.Pd
17) Dept.
Pengabdian
Masyarakat
: Dra. Hj. Maysari Berty
18) Dept.
Advokasi & Perlindungan Hukum
: Dra. Dian Mahsunah, M.Pd
21.
KONGRES KE XXI PGRI
Di teteapkan di Jakarta, 4 juli 2013, dengan
susunan PB PGRI masa bhakti (2013-2018), sebagai berikut:
PENGURUS HARIAN
1) Ketua
Umum
:Dr. Sulistiyo, M.Pd
2) Ketua
:Dr. Unifah Rosyidi, M. Pd
3) Ketua
:Dr. H. Sugito, M. Si
4) Ketua
:H. Sahiri Hermawan, S.H. M.H.
5) Ketua
:Drs. H. Muh. Asmin, M. Pd
6) Ketua
:Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd
7) Ketua
:Prof. Dr. Sudarwan Danim
8) Ketua
: Dr. Didi Suprijadi, M.M.
9) Sekretaris
Jenderal
:M. Qudrat Nugraha, Ph. D
10) Wakil Sekretris
Jenderal
:Dra. Dian Mahsunah, M. Pd
11) Wakil Sekretris
Jenderal
: Dra. Hj. Farida Yusuf, M. Pd
12) Wakil Sekretaris
Jenderal
:Dr. Supardi, M. Pd
13) Wakil Sekretaris Jenderal
: Dr. H. Hadi Tugur, M. Pd, M.M.
14) Bendahara
:Prof. Dr. Dede Rosyada
15) Wakil
Bendahara
:Dr. Fathiaty Murtadho, M. Pd
SEKRETARIS DEPARTEMEN:
1) Organisasi dan Kaderisasi
:Drs. H. Giat Suwarno
2) Kesejahteraan dan
Ketenagakerjaan
:Drs. Usman Tonda, S.H., M. Pd
3) Komunikasi dan
Informasi
:Dr. H.
Basyaruddin Thoyib, M.Pd
4) Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
:Dr.
Mohammad Abduhzen, M.Hum
5) Pendidikan dan
Pelatihan
: Drs. Suharno, M. Sajim, M.M.
6) Hubungan Luar Negeri
:Drs. Warnoto, M. Pd
7) Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru,
:Dra. Hj. Rachmawaty AR, M.M.
Dosen, dan Tenaga
Kependidikan
8) Pembinaan Mental dan Spiritual
:Dr. H. Sastra Djuanda
9) Pemberdayaan
Perempuan
:Dra. Murniasih
10) Olahraga, Seni, dan
Budaya
:Dr. Hj. Euis Karwaty, M.Pd
11) Kerjasama dan Pengembangan
Usaha
:Drs. Wahyo Pradono, M.M.
12) Advokasi, Bantuan
Hukum
:H. Sibro Mulisi, B.A., S.Pd
dan Perlindungan Profesi
13) Penegakan Kode
Etik
: Dr. H. Muhir Subagja,M.M.
14) Pembinaan Karir Guru,
Dosen,
: Kadar, S. Pd, M. Pd
dan Tenaga Kependidikan
II. KESIMPULAN
a. Pada kongres “pertama” membicarakan tetang
disampaikannya tentang protes kepada seluruh dunia terhadap tindakan-tindakan
tentara penduduk di indonesia dengan tujuan agar kongres pertama PGRI yang
berlangsung 100 hari setelah kemerdekaan turut membantu membangkitkan semangat
para guru, untuk memperkuat berdirinya republik Indonesia.
b. Kongres “kedua” membicarakan tentang masa sulit
yang turut menguji kebulatan tekad anak bangsa untuk mempertahankan
kemerdekaannya termasuk para guru.
c. Kongres “ketiga” pada kongres ini diangkatnya
efektivitas organisasi.
d.
Kongres “keempat” Kongres
ini PGRI mendapat pujian dari Presiden RI Assa’at. Menurutnya PGRI merupakan
pencerminan semangat juang para guru sebagai pendidik rakyat dan bangsa.
e.
Kongres “Kelima” Membicarakan
tetang konsolidasi organisasi mulai nyata lebih-lebih dalam pelaksanaan ART,
komisariskomisaris daerah dibentuk serta susunan pengurusnya.
f.
Kongres “Keenam” disepakatinya
beberapa keputusan penting dalam bidang organisasi.
g.
Kongres “Ketujuh” Dalam
kongres ini dibicarakannya masalah urusan agama.
h.
Kongres “Kedelapan” Pada
kongres ini disepakatinya beberapa keputusan penting dalam bidang organisasi.
i.
Kongres “Kesembilan” Dalam
kongres ini ditarinya kembakli dukungan terhadap masalah PSPN ke dalam soksi
akan keluar.
j.
Kongres “Kesepuluh” Pada
masa kongres ini terjadinya perpecahan dalam tubuh PGRI.
k.
Kongres “Kesebelas” Dalam
kongres ini ditegaskannya anggaran dasar sifat PGRI yang unitraristik, indevendent
dan non partai politik.
l.
Kongres “Kedua
belas” Pada kongres ini terjadinya perubahan struktur PB-PGRI.
m.
Kongres “Ketiga
belas” Membicarakan tetang diangkatnya Drs. Rusli Yunus menjadi kepala
sekolah RI di Tokyo.
n.
Kongres “Keempat
belas” Ini PB-PGRI membentuk YPLP PGRI (Yayasan Pembina Lembaga
Pendidikan PGRI).
o.
Kongres “Kelima
belas” Didirikannya proyek pelaksanaan Pembagunan GGI.
p.
Kongres “Keenambelas” Disusunnya
PBPGRI masa bakti XVI (1989-1994).
q.
Kongres “Ketujuhbelas” Disusunya
tim penulis buku sejara PGRI dari masa ke masa.
r.
Kongres “Kedelapanbelas” Dirubahnya
susunan pengurus PB PGRI kalau pada masa lampau pemimpin selalu dipilih secara
aklamasi kini mulai ada peraturan antara kedua calon ketua umum.
s.
Kongres ”Kesembilan
belas” PGRI mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti Undang-Undang
(UU) tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan memberikan jaminan
konstitusional bagi terselenggaranya pendidikan nasional.
t.
Kongres ”Kedua
puluh” Ini memaparkan berbagai dinamika dan problematika guru di
Indonesia.






0 komentar:
Posting Komentar